Senin, 07 April 2014

Ringkasan materi bab 2 cara penyajian data

PENYAJIAN DATA
Menurut Muhammad Arif Tiro (1992;116-131), data yang telah dikumpulkan, baik yang berasal dari populasi ataupun dari sampel, untuk keperluan laporan dan analisis selanjutnya, perlu diatur, disusun, dan disajikan dalam bentuk yang baik dan jelas. Ada dua macam cara penyajian data yang sering digunakan, yaitu dalam bentuk tabel atau daftar, dan dalam bentuk gambar, grafik atau diagram. Bentuk-bentuk tabel yang biasa  digunakan adalah tabel baris-kolom, tabel kontigensi, dan tabel distribusi frekuensi. Selain tabel, banyak juga macam diagram sering digunakan, misalnya diagram batang, diagram gambar atau lambing, diagram garis, diagram lingkaran, diagram pancar dan lain sebagainya.
Penyajian gambar
Penyajian data dalam bentuk gambar atau diagram akan lebih menjelaskan lagi persoalan secara fisual. Data yang peubahnya berbentuk kategori atau atribut dapat disajikan dalam bentuk diagaram batang. Untuk menggambarkan diagram batang diperlukan sumbu datar dan sumbu tegak yang berpotongan tegak lurus. Sumbu datar dibagi menjadi beberapa skala bagian yang sama, denikian pula sumbu tegak,dimana kedua skala ini tidak perlu sama. Diagram batang yang menyatakan keseluruhan kumpulan data yang sudah disusun dalam tabel distribusi frekuensi disebut histrogram. Sebuah histogram dibuat atas komponen-komponen berikut :
Judul yang menyatakan populasi yang diperhatikan.
Sumbu tegak yang menyatakan frekuensi berbagai kelas untuk histogram frekuensi.
Sumbu datar yang menyatakan peubah x. nilai-nilai batas kelas, ujung kelas, atau tanda kelas dapat ditandai sepanjang sumbu x.
Jika tabel frekuensi mempunyai kelas-kelas interval .yang panjangnya berlainan, maka tinggi diagram harus disesuaikan. Namun demikian, disarankan untuk membuat histogram dengan menggunakan panjang kelas interval yang sama. Kita bisa melihat bahwa bentuk histogram adalah diagram batang dengan sisi-sisi batangnya yang berdekatan harus berimpitan. Titik tengah kelas interval dinamakan tanda kelas yang diperoleh dengan menjumlahkan ujung bawah dan ujung atas kelas, kemudian hasilnya dibagi dua. Dari histogram terseut kita dapat membuat diagram-diagram garis dengan menghubungkan titik tengah tiap sisi atas  yang berdekatan , dan sisi terakhir dihubungkan dengan setengah jarak kelas interval pada sumbu datar. Bentuk yang didapat dinamakan polygon. Informasi statistic lasim disajikan dalam bentuk tabel dan grafik atau diagram. Masing-masing bentuk penyajian informasi tersebut memiliki jangkauan tertentu sebagai berikut :
Tabel menyajikan angka-angka tepat, dan memuat informasi yang lebih banyak sehinnga ia memerlukan penelaahan atau pembacaan yang lebih cermat yang kadang-kadang sulit ditafsirkan.
Grafik menyajikan angka-angka pendekatan saja yang memberikan gambaran umum yang bersifat lebih sederhana. Grafik dapat juga berfungsi sebagai frekuealat pengecek terhadap perhitungansi mateatis, dan menjadi petunjuk berharga untuk rencana analisisi, yang bahkan kadang-kadang merupakan alat analisis.
ANALISA DATA
Menurut Muhammad Arif Tiro (1999;116), sebelum data diolah lebih lanjut pemeriksaan kembali terhadap data perlu dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kekeliruan dan ketidak benaran data. Tidak sesuainya atau tepatnya alat ukur, tidak telitinya orang pembaca hasil pengukuran, dan tidak teraturnya pada waktu mengadakan pencatan akan mengahasilkan data yang tidak dapat dipercaya kebenarannya. Untuk menghindari hal yang seperti ini, peneliti harus memeriksa apakah ada data yang meragukan, jika ada ia harus melacak sumbernya sampai data itu diyakini kebenarannya. Ia harus pula memeriksa apakah semua pertanyaan dalam angket sudah di isi semua oleh responden. Jika masih ada yang beelum diisi, ia harus mengupayakan untuk melengkapinya. Jika terdapat data yang harus ditaksir, hendaknya ia menggunakan teknik penaksiran yang baik. Teknik penaksiran ini akan dibicarakan sendiri. Jika kesimpulannya, peneliti harus mendapatkan data yang baik dan objektif atau dlam ungkapan lain, sahih dan benar. Jika penghasilan terendah adalah Rp 50 ribu dan tertinggiRp 799 ribu, maka lebar kelasnya(I) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
Pembulatan Data
Pada perhitungan dengan menggunakan data nalar, kita sering melakukan pembulatan angka. Untuk itu terdapat kesepakatan ahli statistika untuk secara konsisten mengikuti aturan-aturan sebahi berikut;
Angka-angka dibawa 5 dapat dihilangkan pada pembulatan dibelakan koma. Misalnya jika dikehendaki pembulatan satu decimal, maka angka 1,34 dibulatkan menjadi 1,3.
Angka-angka diatas 5 dalam pembulatan dibelakang koma dibulatkan menjadi satu. Misalnya jika dikehendaki pembulatan dalam satu decimal, mak angka 1,37 dibulatkan menjadi 1,4.
Untuk angka 5 dibelakang koma dilakukan aturan berikut, (i) aturan genap terdekat. Jika angka 5 terdapat dibelakang bilangan genap, maka angka lima tersebut dihilangkan pada pembulatan. (ii) aturan ganjil terdekat. Jika angka 5 terdapat dibelakang bilangan ganjil, maka angka lima tersebut dihilangkan pada pembulatan.
Ujung Kelas dan Batas Kelas
Ujung kelas ialah bilangan-bilangan yang terdapat pada pinggir suatu interval. Jadi pada suatu kelas, terdapat dua ujung kelas, yaitu bilangan terkecil yang disebut ujung bawa dan bilangan terbesar disebut ujung atas. Selain ujung kelas, jug dikenal istilah batas kelas (class boundaries atau real class limits). Akan tetapi, kelas diperoleh dengan membagi dua jumlah ujung kelas yang berurutan. Jadi, batas kelas ketiga, pada contoh diatas ialah  sebagai batas bawah dan  sebagai batas atas. Disini terlihat bahwa lebar kelas merupakan selisi dari dua batas kelas yang berurutan, jadi lebar kelas = 199,5 – 99,5 = 100. Dengan telah diterapkannya ujung kelas dan batas memasukkan data ke dalam salah satu kelas menjadi lebih mudah. Disamping ujung kelas dan batas kelas,  dikenal lagi istilah tanda kelas yaitu titik tengah (class mark) pada setiap kelas. Angka ini didapatkan dengan membagi dua jumlah batas kelas bawah dan batas kelas atas. Jasi pada kelas ketiga dari contoh diatas, tanda kelasnya adalah . Dari uraian di atas terlihat bahwa ujung kelas tidak pernah berimpit, sedangkan batas bahwa pada kelas berikutnya.
Menurut Murray R. Spiegel (2004;6-7). Ketika kita mengumpilkan data mentah yang sangat besar, umumnya akan sangat membantu jika kita mendistribusikan data.
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Tidak Sekolah
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SLTP
Tamat SLTA
SLTA Plus
78
167
311
195
160
89
Total Kepala Keluarga
1000
Sumber : Survei Lapangan Tahun 1990
Untuk menghasilkan tabel distribusi frekuensi, dilakukan tiga tahap pekerjaan berikut :
1.      Menentukan banyaknya kelas atau klasifikasi data.
2.      Memasukkan data kedalam kelas yang sesuai.
3.      Menghitung banyaknya data pada setiap kelas.
DISTRIBUSI FREKUENSI
Menurut Muhammad Arif Tiro dan baharuddin Ilyas (2002;13-18), sifat-sifat penting dari sekumpilan data yang sanagt banyak dapat dengan mudah dipelajari dengan mengelompokkan data kedalam kelas-kelas tersebut dan penyajiannya dalam suatu tabel merupakan upayah penyederhanaan data. Tabel yang dihasilkan disebut distribusi frekuensi.
Pengelompokan Data
Data yang terdapat didalam tabel distribusi frekuensi disebut data kelompok. Pada penyajian hasil penelitian, kita sering mengelompokkan data dari suatu sampel kedalam suatu  selang (interval). Hal ini dilakukan untuk mendapatkan suatu gambaran menyeluruh yang baik dari suatu populasi. Namun harus disadari bahwa dengan mengelompokkan data kedalam kelas-kelas tersebut, beberapa identitas individu data dapat dihilangkan. Pengelompokkan data kedalam kelas-kelas penting artinya, terutama jika pengolahan  data dilakukan secara manual tanpa bantuan computer. Dengan cara ini, gamabaran yang bain dan menyekuruh dari suatu objek yang diteliti dapat diperoleh. Contoh tabel distribusi frekuensi akan diberikan sebagai berikut :
Pada suatu penelitian kependudukan di Sulawesi Selatan, 1000 rumah tangga Pasangan Usia Subur (PUS) menjadi sampel. Komposisi tingkat penghasilan rumah tangga dari hasil penelitian tersebut diberikan pada tabel 2.1. jika tingkat pendidikan kepala rumah tangga keluarga PUS tersebut ingi diketahui, maka data tabel 2.2 menunjukkan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan mereka.
Tabel 2.1 distribusi rumah tangga PUS menurut tingkat pendapatan.
Penghasilan perbulan Dalam Ribuan Rupiah
Banyaknya Rumah Tangga
Dibawah 50
50-59
100-199
200-229
300-399
400-449
500-599
600-699
700-799
50
227
354
170
123
56
13
5
2
Total Rumah Tangga
1000
Sumber : Survei Lapangan Tahun 1990.
 DISTRIBUSI FREKUENSI RELATIVE DAN KUMULATIF
Menurut Muhammad Arif Tiro dsn Baharuddin Ilyas (200;18-22).
Tabel 2.4. Distribusi frekuensi hasil tes statistic 150 orang Mahasiswa.
Nilai Tes
Banyaknya Mahasiswa
10-19
20-29
30-39
40-49
50-59
60-69
70-79
80-89
90-99
1
6
9
31
42
32
17
10
2
Jumlah
150
Tabel distribusi frekuensi yang dihasilkan diatas merupakan distribusi mutlak, yaitu frekuensinya dinyatakan dengan angka-angka absolute. Dari distribusi frekuensi mutlak, distribusi frekuensi relative dapat dibuat, yaitu dengan mengubah angka-angka mutlak kedalam persentase Tabel 2.5 diberikan contoh sebagai berikut :
Nilai Tes
Persentase
10-19
20-29
30-39
40-49
50-59
60-69
70-79
80-89
90-99
0,67
4,00
6,00
20,00
28,00
21,33
11,33
6,67
1,33
Jumlah
100,00
Cara untuk menyajikan distribusi frekuensi relative ada berapa macam. Ada yang membuat secara bersama-sama dengan frekuensi mutlak dan ada pula yang hanya mencantumkan angka relatifnya saja.
Selain distribusi frekuensi distribusi mutlak dan frekuensi relative seperti yang telah diuraikan, juga dikenal distribusi frekuensi kumulatif. Distribusi frekuensi kumulatif ada dua bentuk yaitu :
Distribusi kumulatif “atau kurang”
Distribusi kumulatif “atau lebih”
Pada distribusi kumulatif atau kurang seperti pada Tabel 2.7, yang dicatat ialah ujung kelas atasnya saja. Kelas pertama dimulai denga angka 9 sebagai ujung atas dari kelas pertama. Kelas kedua dimulai dengan angka 19 sebagai ujung atas kelas kedua demikian kelas ketiga keempat dan seterusnya
Tabel 2.7. Distribiusi Kumulatif “atau kurang”
Nilai Tes
Frekuensi Kumulatif
9 atau kurang
19 atau kurang
29 atau kurang
39 atau kurang
49 atau kurang
59 atau kurang
69 atau kurang
79 atau kurang
89 atau kurang
99 atau kurang
0
1
7
16
47
89
121
138
148
159
Pada distribusi kumulatif “atau lebih” yang dicata ialah yang kelas bawahnya, jadi dimulai dengan nilai-nilai 10, 20, 30, dsn seterusnya seperti pada tabel 2.8.
Tabel 2.8. Distribusi Kumulatif “atau lebih”.
Nilai Tes
Frekuensi Kumulatif
10 atau lebih
20 atau lebih
30 atau lebih
40 atau lebih
50 atau lebih
60 atau lebih
70 atau lebih
80 atau lebih
90 atau lebih
100 atau  lebih
150
149
143
134
103
61
29
12
2
0
Menurut Murray R. Spiegel (2004;10), frekuensi relative dari suatu kelas adalah frekuensi dari kelas tersebut dibagi dengan frekuensi total dari seluruh kelas, dan biasanya dinyataka dalam bentuk persentase. Refresentase grafis dari distribusi frekuensi-relatif dapat diperoleh daro histogram atau polygon frekuensinya cukup dengan mengubah skala pada sumbu vertical dari frekunsi menjadi frekuensi relative, mengahsilkan diagram yang persis sama. Grafi-grafik yang dihasilkanpersisi sama. Grafik-grafik yang dihasilkan masing-masing disebut histogram frekuensi relative (histogram persentase) dan polygon  frekuensi relative (polygon persentase).
              Menurut Muhammad Arif Tiro (1999;118), tabel distribusi frekuensi dapat dibuat dengan mengelompokkan dagta kuantitatif menjadi beberapa kelompok. Sebuah distribusi frekuensi dapat dengan mudah diubah menjadi distribusi frekuensi kumulatif dengan mengganti kolom frekuensi dengan frekuensi kumulatif. Frekuensi kumulatif untuk setiap kelas dibawahnya (yang mempunyai nilai lebih kecil). Frekuensi kumulatif seperti ini disebut frekuensi kelas diatasnya. Informasi yang sama dapat diberikan dengan menggunakan distribusi frekuensi kumulatif relative. Hal ini menggabungkan ide frekuensi kumulatif dan ide frekuensi relative. Untuk membuat tabel distribusi frekuensi dengan panjang kelas yang sama, kita lakukan sebagai berikut :
Tentukan nilai, yaitu dat terbesar dikurangi data terkecil. Dalam hal ini. Misalnya data terbesar 99 dan data terkecil 16, maka rentang = 99-16 = 83.
Tentukan banyak kelas interval yang diperlukan. Banyak kelas tergantung dari kebetulan, tetapi pada umunya bisa digunakan 5 kelas sampai dengan 12 kelas. Cara lain untuk data dari sampel besar (ukuran sampel n lebih 200), dapat digunakan aturan Starge, yaitu :
Banyaknya Kelas = 1 + (3,3) log n
Jadi, kita bisa mebuat tabel distribusi frekuensi dengan delapan buah kelas.
Tentukan panjang kelas interval P, yaitu hadil bagi retang degan banyaknya kelas. Dalam hal ini P = 83/8 = 10, 375 dan dari sini kita bisa  mengambil P = 10 atau 11.
Pili ujung bawah kelas interval pertama. Untuk itu  bisa diambil sama dengan data terkecil (16) atau nilai data yang kecil dari data terkecil (misalnya 15,5), tetapi solusinya harus kurang dari panjang kelas yang telah ditentukan,. Selanjutnya, tabel disesuaikan dengan menggunakan nilai-nilai yang telah dihitung.
Dengan P = 11 dan mulai dengan data yang kecil dari data yang terkecil, diambil 14, maka kelas kedua 25-35, kelas ketiga 36-46, dan seterusnya.
PENYAJIAN GRAFIK FREKUENSI
Menurut Muhammad Arif Tiro dan Baharuddin Ilyas (2002;29-41), pennyajian data statistik denagn menggunakan grafik mempunyai suatu keistimewaan, karena memmberikan kesan yangmenarik sehingga mudah ditangkap artinya. Oleh karena itu, penyajian grafik  biasanya dilakukan sebagai pelengkap dari penyajian data dalam tabel frekuensi. Selain itu, terdapat pula grafik dan gambar statistic yang disajikan  untuk menggambarkan suatu masalah, sehingga lebih menarik di banding jika hanya diuraikan dalam angka-angka. Berabagai jenis grafik distribusi frekuensi, seperti :
1.      Histogram Frekuensi
Histogram digambarkan dengan menggunakan sistem sumbu silang. Sumbu horizontal mengambarkan interval kelas dan pada sumbu vertical menggambarkan frekuensi pada setiap kelas. Jadi, histogram merupakan serangkaian empat persegi panjang dan luasnya sebanding dengan frekuensi setiap kelas. Interval kelas pada sumbu horizontal dibatasi oleh batas kelas. Hal ini terutama berlaku pada  data malar. Lain halnya data farik, yaitu data ynag menyatakan jumlah makhluk hidup atau benda-benda lain yang selalu dinyatakn dalam bentuk bilangan bulat, histogramnya dibuat dengan ujung kelas.
2.      Polygon
Polygon digambarkan dengan menghubungkan titik-titik tengah atau tanda kelas setiap empat persegi panjang dari histogram frekuensi. Dengan menghubungkan secara berurutan tanda kelas mulai dari kelas pertama sampai keatas terakhir, didapatkan grafik histogram. Namun grafik ini harus tertutup. Hal ini dilakukan dengan menghubungkan tanda kelas dari kelas pertama dengan pertengahan skala pada sumbu datar yang berdekatan drngan empat persegi panjang itu. Hal yang sama dilakukan pula pada kelas yang terakhir, sihingga didapatkan gambar polygon frekuensi dari hasil tes statistic.
3.      Ogive
Ogive adalah kuyrva frekuensi kumulatif yang telah dihaluskan sehingga kkita dapatkan suatu lengkungan yang disebut lengkung kumulatif. Terdapat dua jenis frekuensi kimulatif atau lebih, sehingga terdapat pula dua jenis ogive, yaitu lengkung kumulatif atau kurang dan lengkung kumulatif atau lebih.
4.      Kurva Lorens
Kurva Lorens berbenutk bujur sangkar. Kurva ini merupakan satu bentuk distribusi kumulatif yang digunakan untuk mrnggambarkan tingkat pemerataan  pembagian pendapatan  atau penghasilan antara berabagai kelompok masyarakat
5.      Diagram Batang
Diagram batang sering digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi kualitatif, misalnya data dalam bentuk kategori.
6.      Diagram Lingkaran (Pie Diagram)
Diagram lingkaran (pie diagram) digambaarkan untuk memperhatikan bahagian atau peranan masing-masing sektor yang membentuk sama bahagian total.
7.      Piktogram
Piktogram  ialah data dalam bentuk gambar yang menarik, yang mewakili jumlah tertentu.
8.      Peta Statistik
Peta statistik digunakan untuk menggambarkan distribusi geografis suatu keadaan atau kondisi pada suatu peta.
 Menurut Murray R. Spiegel (2004;9), histogram dan polygon frekuensi adalah dua referesentasi grafis dari distribusi frekuensi.
Sebuah histogram atau histogram frekuensi, terdiri dari sekumpulan  persegi yang mempunyai (a) alas pada sumbu horizontal (sumbu X), dengan pusat-pusat yang terletak pada tanda-tanda kelasnya dan panjang akan sebanding dengan frekuensi-frekuensi kelas. Jika seluruh interval kelas mempunyai ukuran yang sama, maka tinggi dari persegi panjang akan sebanding dengan frekuensi kelas, sehingga kita biasanya menetapkan bahwa tinggi-tinggi tersebut memiliki nilai yang sama, dengan frekuensi-frekuensi kelas. Jika interval-interval kelas tidak memiliki ukuran yang sama, maka tinggi-tinggi ini harus disesuaikan.
Polygon Frekuensi adalah suatu grafik berbentuk garis dari frekuensi kelas yang diplot terhadap tanda kelas. Polygon frekuensi dapat diperoleh dengan cara menghubungkan titik-titik tengah dari puncak-puncak persegi panjang pada histogram.
KESIMPULAN
Penyajian data adalah data yang telah dikumpulkan, baik yang berasal dari populasi ataupun dari sampel, untuk keperluan laporan dan analisis selanjutnya, perlu diatur, disusun, dan disajikan dalam bentuk yang baik dan jelas. Ada dua macam cara penyajian data yang sering digunakan, yaitu dalam bentuk tabel atau daftar, dan dalam bentuk gambar, grafik atau diagram.
Analisi Data
Yang dimaksud dengan analisis data mempunyai dua arti sebagai berikut :
Menguraikan/memcahkan suatu keseluruhan menjadi bagia-bagian/komponen-komponen yang lebih kecil,  sesuai dengan analsa agar supaya :
Memperkirakan atau memperhitungkan besarnya pengaruh secara kuantitatif dari perubahan suatu (beberapa) kejadian lainnya.Distribusi frekuensi adalah banyaknya data yang terdapat dalam setiap kelas pada suatu daftar frekuensi yang berbentuk absolute.
Distribusi frekuensi relative adalah fekuensi didalam  daftar yang dinyatakan dalam persentase. Sedangkan distribusi frekuensi kumulatif dapat dibentuk dengan jalan menjumlahkan frekuensi demi frekuensi.
Penyajian Grafik Frekuensi
Histogram adalah grafik dimana setiap kelas digambarkan satu bentuk kolom  sedemikian rupa sehingga luas dataran kolom tersebut sebanding dengan frekuensi kelas tersebut.
Frekuensi polygon adalah pada sumbu datar ditentukan poin bagi tiap-tiap persegi panjang yang merupakan kelas-kelas interval, kemudian menghubungakn denag sebuah garis linear atau dengan garis terputus-putus.
Ogive adalah garis untuk distribusi frekuensi kumulatif baik yang biasa maupun relative.
Kurva frekuensi merupakan garis patah-patah atau persegi banyak, biasanya diratakan atau didekati oleh sebuah lengkungan halus yang bentuknya secocok mungkin dengan bentuk polygon tersebut yang menghasilkan lengkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Tiro, Muhammad Arif . 1999. Dasar-dasar Statistika. Makassar : Badan Penerbit UNM.
Tiro, Muhammad Arif dan Baharuddin Ilyas. 2002. Statistik Terapan untuk Ilmu Ekonomi dan Ilmu Sosial. Makassar : Andira Publisher Makassar.
Spiegel, Murray R. 2004. Statistik. Jakarta : Erlangga.
.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar